Kamis, 09 September 2010 Situs Resmi Pemerintah Kabupaten Rote Ndao
     Home      Peta Situs      Buku Tamu      WebMail      Pengaduan      FAQ      Kontak
Menu
Profil
Pemerintahan Eksekutif
Pemerintahan Legislatif
Potensi Daerah
Fasilitas Daerah
Rote Ndao Dalam Angka
Layanan Masyarakat
Berita
Budaya Masyarakat
Galeri Bisnis
Iklan Baris
Links Situs
Pariwisata
Produk Hukum
Video
Agenda Kegiatan
Lomba Dayung
Selancar
Hus Oehandi
Best View
Untuk tampilan terbaik, gunakan browser Mozilla Firefox dan resolusi layar
1024 x 768 pixels.

download
Serba Serbi
Berita Lelang
Telepon Penting
Petunjuk Daerah/Kota
Bursa Kerja
Kirim Surat
Pengaduan

Search
  


Language
Shout Box
           Artikel
Stop AIDS!! Bersama Kita Bisa
Selasa, 01 Desember 2009, 12:30 WIB, Penulis : Agustinus L. N. B. Raring

Kalau kita hanya melihat AIDS sebagai epidemi yang melanda dunia, maka AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) memang kelihatan seolah-olah seperti gejala penyakit baru yang datang secara mendadak. Namun sebenarnya jika ditinjau jauh ke belakang ada kemungkinan bahwa virus ini sudah lama ada, seperti yang ditemukan di Afrika pada tahun 1950-an pada beberapa jenis kera. Perlu kita ketahui bersama bahwa virus kadang-kadang mempunyai sifat yang berubah. Ada virus yang semula tidak merugikan manusia, namun kemudian berubah menjadi suatu yang merambat kemana-mana dan menjadi parasit yang mematikan.

Barangkali inilah yang terjadi pada HIV(Human Immunodeficiency Virus) yang jauh ada sebelum epidemi AIDS timbul. Virus ini bisa kita ibaratkan dengan sejenis rumput liar yang tumbuh bebas didaerah asalnya, tidak terlalu banyak menyebar dan diperhatihkan orang. Ketika memasuki lingkup baru, rumput liar itu pun berubah sifat dan berkembang dengan sangat pesat. Kemudian menyebar dan mendesak tumbuh-tumbuhan lain sehingga menjadi suatu masalah besar.

Menurut laporan setiap hari terdapat 7.400 kasus baru HIV atau 5 orang per menit dan 96% di antaranya merupakan populasi di negara berkembang. Keterbukaan dari lingkup yang terisolasi, perpindahan penduduk yang mendiami kota-kota besar termasuk perubahan gaya hidup, terutama perilaku seksual masyarakat moderen memungkinkan pula tersebarnya virus ini dengan mudah dan cepat. Perkembangan yang cepat dari virus ini sebenarnya ditopang oleh cirinya yang khas lagi unik, apalagi tubuh manusia adalah ranah yang cocok bagi perkembangannya secara baik dan cepat.

Indonesia sebagai negara kepulauan terbuka dengan kepadatan lalu-lintas yang tinggi, sangat memungkinkan masuk dan menyebarnya virus ini. Apalagi setiap tahun negara kita didatangi 2.500.000 wisatawan mancanegara dan banyak pula orang kita yang keluar negeri. HIV/AIDS pada akhirnya (bahkan sekarang ini juga sudah) berkembang secara domestik. Di negara kita ini bisa dipastikan bahwa hampir tidak ada provinsi yang dinyatakan bebas dari HIV/AIDS.

Bahkan diperkirakan saat ini HIV/AIDS sudah terdapat di lebih dari separuh Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia. Berdasarkan data resmi dari Departemen Kesehatan RI, hingga akhir Juni 2009, secara kumulatif tercatat 17.699 kasus AIDS. Jumlah kasus yang sesungguhnya diperkirakan sebanyak 298.000 orang dengan HIV dan AIDS di seluruh Indonesia.

Jika dilihat dari cara penularannya, mayoritas penularan melalui heteroseksual (48,8%), disusul penggunaan narkoba suntik (41,5%), dan homoseksual (3,3%). Sebagian besar kasus HIV/AIDS tersebut terdapat pada kelompok usia 20-29 tahun sebesar 50% dan kelompok umur 30-39 tahun sebesar 29,6%. Data tersebut menunjukkan bahwa ada suatu ancaman serius terhadap keberlangsungan generasi muda bangsa Indonesia ke depan.

Mencermati hal yang demikian, tak pelak lagi bahwa manusialah sumber pertama yang menjadi kajiannya. Betapapun sulit dan sangat menantang, kita perlu melihat sejauh mana keterpanggilan kita memecahkannya dan menanggulanginya. Bila dibandingkan jumlah orang dengan HIV/AIDS, negara kita jauh lebih sedikit dibandingkan dengan Thailand dan India dengan angka penderita HIV/AIDS yang mencengangkan.

Tetapi jangan diartikan bahwa kita boleh berhati lega. “Warning” bagi kita. Kita perlu belajar dari keadaan Thailand dan India yang pada pertengahan 1980-an merasa aman dengan HIV/AIDS. Pada waktu itu, kasusnya masih sedikit sekali dan pemerintah negara-negara tersebut tidak menganggap hal itu sebagai masalah, dengan mengajukan alasan-alasan bahwa latar belakang agama, budaya dan gaya hidup “Masyarakat Timur” tidak memungkinkan terjadi ledakan kasus AIDS.

Dan ternyata percepatan jumlah kasus AIDS sungguh sangat mengagetkan. Mungkin kita perlu belajar dari negara-negara tetangga kita ini dan mengadakan tindakan pencegahan dengan lebih efektif tanpa berpuas diri sebagai negara yang “ tahan terhadap AIDS”.

Masalah HIV dan AIDS merupakan ancaman yang serius bagi kemanusiaan, karena itu harus kita tangani dengan baik dan secara komprehensif sepadan dengan keterpanggilan kita”ungkap Ir. Aburizal Bakrie yang kala itu masih menjabat sebagai Ketua KPA Nasional. Karena persoalan ini bukan untuk diberi kepada golongan, kelompok atau etnis tertentu saja melainkan menjadi tanggung jawab kita bersama dalam semangat hari AIDS sedunia 2009 : “STOP AIDS: Jaga Janjinya - Akses Universal dan Hak Asasi Manusia” Karena itu kita semua perlu menempuh beberapa langkah berikut untuk memeranginya.

Pertama; pemerintah dan masyarakat harus bergandengan tangan dalam mencegah penularan HIV/AIDS. Penularan dan penderita (dalam hal ini pengidap HIV/AIDS tidak mendapat perhatian secara serius dari pemerintah baik lokal maupun nasional begitu pun dengan masyarakat). upaya-upaya tersebut masih perlu ditingkatkan baik kualitas, kuantitas, keterpaduan, maupun kebersamaannya.

Kedua: bahwa setiap orang mempunyai hak atas informasi yang akurat. Dalam hal ini mendapatkan nilai-nilai keagamaan secara regional maupun internasional, lewat hubungan yang harmonis dan komunikasi yang intensif dan terbuka maka akan mampu meningkatkan daya juang bersama menekan laju penularan HIV dengan menyingkirkan stigma.

Ketiga: bahwa setiap kebijakan,program dan pelayanan harus menghargai dan menghormati mereka yang mempunyai HIV/AIDS.  

 

Keempat: perlunya izin(informed consent)serta jaminan kerahasiaan bagi mereka yang mempeoleh konseling pra-tes dan pasca-tes. Langkah terakhir adalah perlunya undang-undang dalam mendukung semua konsep ini sehingga pelayanan kepada orang dengan HIV/ AIDS perlu diberikan tanpa ada diskriminasi.

Dengan langkah-langkah ini marilah kita membentuk komitmen, bukan saja satu hari akan tetapi sepanjang 365 hari berani untuk berujar "Hentikan AIDS, Jaga Janjinya", komitmen dalam pencegahan, perawatan, pemeliharaan, dan dukungan terhadap penyakit dan para korban HIV/AIDS. Tak mustahil untuk diperjuangkan. BERSAMA KITA BISA.

[timor express]
Cetak Berita Kirim Berita News Index
Bupati Dan Wakil

Bupati

Wakil Bupati
Perizinan
IMRI
UBP
IUP
SKM
Sertifikat Eksport
Surat Permohonan
Sertifikat Pembe
IMB
SIUP
SIUJK
Artikel Dan Riset
Data, Persoalan Utama Pencemaran Laut Timor
Penanganan Pencemaran Minyak
Gerakan Masyarakat Sadar Koperasi

Indeks
Galery Foto
Google Search
Visit Counter
 Online : 22
 Hari ini : 17
 Kemarin : 113
 Bulan ini : 1154
 Bln Kemarin : 4764
 Total : 64.961
Statistics
Pengelola
Kantor PAD dan PDE
Kabupaten Rote Ndao
Yahoo Messenger
1. Administrator
    

2. PDE RN
    

3. nelly
    


Copyright © Kantor PAD dan PDE Kabupaten Rotendao

Komplek Perkantoran Bumi Ti'ilangga Permai - Ba'a
No.Telp:62380-871070,8032055   No.Fax:62380-871070
e-Mail: kpde@rotendao.go.id