Kamis, 09 September 2010 Situs Resmi Pemerintah Kabupaten Rote Ndao
     Home      Peta Situs      Buku Tamu      WebMail      Pengaduan      FAQ      Kontak
Menu
Profil
Pemerintahan Eksekutif
Pemerintahan Legislatif
Potensi Daerah
Fasilitas Daerah
Rote Ndao Dalam Angka
Layanan Masyarakat
Berita
Budaya Masyarakat
Galeri Bisnis
Iklan Baris
Links Situs
Pariwisata
Produk Hukum
Video
Agenda Kegiatan
Lomba Dayung
Selancar
Hus Oehandi
Best View
Untuk tampilan terbaik, gunakan browser Mozilla Firefox dan resolusi layar
1024 x 768 pixels.

download
Serba Serbi
Berita Lelang
Telepon Penting
Petunjuk Daerah/Kota
Bursa Kerja
Kirim Surat
Pengaduan

Search
  


Language
Shout Box
           Artikel
Manusia yang Memberi dan Menerima
Senin, 04 Januari 2010, 08:06 WIB, Penulis : Serv. J Salvano

FILSUF Ferdinand Ulrich dalam salah satu poin filsafatnya tentang pemberian mengatakan bahwa seluruh realitas dapat dipandang sebagai suatu kompleksitas relasi memberi dan menerima; memberi dan menerima antara Allah dan manusia, antara sesama manusia.

Titik tolak relasi memberi dan menerima itu adalah pemberian Tuhan sendiri sebagai tanda bonitas, kebaikan, atau kasih Tuhan. Ini adalah pemberian yang paling pertama dan yang mengandung segala pemberian yang lain. Pemberian Allah adalah awal dari seluruh eksistensi dan pemberian yang primordial dan utama itu adalah esse. Volo, ut sis: saya mau supaya engkau ada dan oleh karena itu, saya memberi adanya bagimu, saya membuat engkau ada. (bdk. Josef Pieniezek, Mengabdi Kebenaran, hlm. 344-350).

Sebagai pemberian diri dari Allah, manusia memiliki tugas dan tanggung jawab untuk memberi kepada yang lain. Di sini, manusia tidak  hanya menampilkan dirinya sebagai ens religiousus, yakni yang menyadari diri sebagai pemberian Allah, tetapi juga menegaskan hakikat jati dirinya sebagai ens sociale, yakni manusia yang menyadari diri sebagai pemberian untuk orang lain, untuk sesama.

Meski demikian, keberadaan manusia tidak hanya sebatas  memberi. Dia juga adalah subyek yang menerima. Manusia menyadari diri sebagai pemberian dari Allah, sekaligus menyadari diri sebagai penerimaan atas pemberian dari Allah. Jika demikian, manusia dalam dirinya adalah pemberian sekaligus penerimaan. Keduanya tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Memberi selalu berarti memberi kepada yang menerima; dan menerima selalu berarti menerima dari yang memberi. Menerima adalah juga sebuah bentuk pemberian diri. Artinya, subyek, penerima, mengarahkan dirinya kepada apa atau siapa yang memberi. Inti eksistensi manusia adalah relasi memberi dan menerima atau lebih dikenal dengan istilah intersubjektivitas. Intersubyektivitas tidak lain adalah soal memberi dan menerima dalam relasi antarmanusia (Ibid)

Jika memberi dan menerima merupakan inti relasi manusia, dan kalau relasi merupakan ciri eksistensial dalam kehidupan manusia, maka orang yang tidak memberi atau tidak menerima adalah orang yang menyangkali eksistensi dan jatidirinya sebagai manusia.

Dalam kaitannya dengan itu, ada tiga tendensi sikap manusia yang bisa saja hadir dalam bentuknya yang paling ekstrim; yakni orang yang tidak memberi sekaligus tidak mau menerima, orang yang hanya tahu memberi, dan orang yang hanya tahu menerima. Ciri yang pertama tentu tidak ditemukan karena jarang ada manusia yang tidak tahu memberi sekaligus tidak tahu menerima. Sementara itu, dua ciri yang terakhir hanya dapat diidentifikasi melalui kecenderungan kepada salah satu ekstrimnya. Sebab, tidak ada manusia yang sungguh-sungguh hanya tahu menerima atau hanya tahu memberi. Yang dapat ditemukan adalah kecenderungan kepada salah satu ekstrimnya, yakni orang yang lebih banyak memberi ketimbang menerima atau sebaliknya. 

Orang yang hanya tahu menerima tapi tidak tahu memberi adalah orang yang menaruh ketergantungan dirinya pada orang lain.Tendensi sikap seperti ini akan membentuk mentalitas easy going dalam diri, keengganan untuk berusaha atau bekerja keras, tidak mau bertanggung jawab, selalu berharap dari yang lain. Oleh karena itu, ciri pribadi seperti ini turut memupuk sikap arogansi yang merusakkan orisinalitas dan otentisitas diri. Seorang  wakil rakyat yang lupa rakyat adalah contoh sederhana yang mempresentasikan kategori manusia yang hanya tahu menerima tetapi tidak tahu memberi.

Sementara itu, orang yang hanya tahu memberi tetapi tidak tahu menerima adalah orang yang merasa berkecukupan dalam dirinya. Pribadi seperti ini merasa dirinya sudah sempurna, merasa segala sesuatu telah beres, segala sesuatu mesti diatur olehnya, dan karena itu jarang mengharapkan bantuan dari orang lain. Karakter seperti ini akan memupuk dalam diri benih-benih otoriter bahkan totaliter. Keterlibatan orang tidak diakui karena menganggap diri bisa mengurus segala sesuatu.

Di era global, kecenderungan seperti ini semakin menyata ketika manusia menempatkan paradigma ekonomi sebagai paradigma tunggal dalam hidupnya. Salah satu ciri globalisasi adalah sebuah unifomalisasi/ekonomisasi pada tataran ideologi. Ekonomi menjadi paradigma tunggal yang diyakini mampu mengatasi segala permasalahan manusia. Yang terjadi adalah kolonialisasi seluruh bidang kehidupan oleh prinsip-prinsip ekonomi (bdk. Paul Budi Kleden, Teologi Terlibat, 56). Manusia di era global adalah makhluk berdimensi tunggal karena pluralitas dimensi manusia justru direduksi menjadi makhluk berdimensi ekonomi semata.

Pemutlakan dimensi ekonomi seperti ini berdampak pada ambruknya relasi 'memberi dan menerima manusia' dalam banyak bentuknya. Manusia yang adalah ens religiousus (yang seharusnya menyadari diri sebagai pemberian Tuhan) kini mengalami krisis iman karena hantaman arus sekularisasi dan hedonisme di zaman global ini. Krisis iman ini tidak saja terwujud dalam sikap ekstrim meninggalkan Tuhan, tetapi juga menyata dalam sikap inkonsistensi penghayatan hidup beragama; yakni inkonsistensi antara apa yang dirayakan dalam upacara keagamaan dengan apa yang dihayati dalam kehidupan harian. Sebagai manusia yang menyadari diri sebagai pemberian dari Tuhan, kita seharusnya tahu bersyukur kepada Tuhan.

Demikian pun hakikat manusia sebagai esn sociale (yang menyadari diri sebagai pemberian untuk orang lain) direduksi menjadi relasi pemberian yang bermotif ekonomi semata. Orang berelasi dengan orang lain sejauh itu memberikan keuntungan pada diri sendiri, dan orang dengan begitu mudah dilupakan ketika mereka tidak lagi memberikan keuntungan ekonomis kepada diri kita. Orang-orang miskin dan kecil, misalnya, sangat mudah dijadikan komoditi politik oleh pihak tertentu demi kepentingan kekuasaan dan keuntungan pribadi. Demikian juga, orang merebut kekuasaan bukan lagi unuk melayani sesamanya tetapi demi penumpukan harta kekayaan pribadi dan keluarga.

Kalau memberi dan menerima adalah inti relasi manusia dan berciri eksistensial, maka penyangkalan terhadap dua kebajikan tersebut merupakan sebuah bentuk penyangkalan terhadap eksistensi diri. Manusia seperti ini menyangkali dirinya sebagai 'yang diberikan dari yang lain' dan 'yang wajib memberi kepada yang lain'.

Manusia ini ibarat sebuah 'substansi' a la De Cart yang keberadaannya tidak membutuhkan yang lain, yang tetutup  dalam dirinya, yang tidak  memiliki jendela kehidupan sehingga tidak memungkinkannya untuk berelasi dengan yang lain. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa manusia seperti ini adalah 'manusia monadel'; manusia yang menutup dirinya dengan yang lain;  manusia yang tidak memberi atau tidak  menerima.

Masih dalam terang dan semangat Natal, kita memasuki tahun 2010 dengan mempertegas kembali keberadaan dan penghayatan hidup kita sebagai makhluk yang 'memberi dan menerima'. Pertama-tama, kita adalah makhluk pemberian Tuhan, dan oleh karena itu kita bertanggung jawab untuk juga memberi dan menerima dari dan untuk Tuhan, sesama, dan lingkungan.

Natal mengingatkan kita akan tanda bonitas atau kebaikan Allah. Oleh karena itu, ia perlu dilihat sebagai bentuk gugatan Allah terhadap aneka tendensi hidup manusia yang kian egoistis, individualistis, dan sekular yang merusakkan tatanan relasi hidup manusia. Pemberian diri Allah melalui Natal adalah pemberian yang dilandaskan atas kasih. Ia melampaui setiap bentuk pemberian manusiawi yang bermotifkan kepentingan sesaat tertentu dan egoistis. Dalam semangat ini, kita mengawali tahun yang baru dengan semakin mempertajam rasa kepekaan dan tanggung jawab kita terhadap situasi di sekitar kita.* [Pos Kupang]
Cetak Berita Kirim Berita News Index
Bupati Dan Wakil

Bupati

Wakil Bupati
Perizinan
IMRI
UBP
IUP
SKM
Sertifikat Eksport
Surat Permohonan
Sertifikat Pembe
IMB
SIUP
SIUJK
Artikel Dan Riset
Data, Persoalan Utama Pencemaran Laut Timor
Penanganan Pencemaran Minyak
Gerakan Masyarakat Sadar Koperasi

Indeks
Galery Foto
Google Search
Visit Counter
 Online : 9
 Hari ini : 120
 Kemarin : 113
 Bulan ini : 1257
 Bln Kemarin : 4764
 Total : 65.064
Statistics
Pengelola
Kantor PAD dan PDE
Kabupaten Rote Ndao
Yahoo Messenger
1. Administrator
    

2. PDE RN
    

3. nelly
    


Copyright © Kantor PAD dan PDE Kabupaten Rotendao

Komplek Perkantoran Bumi Ti'ilangga Permai - Ba'a
No.Telp:62380-871070,8032055   No.Fax:62380-871070
e-Mail: kpde@rotendao.go.id