Minggu, 16 Januari 2011, 19:21 WIB, Penulis : Amanche Franck Oe Ninu & Iren Andre Leuobi
PAGI cerah, Selasa 28 Desember 2010. Masih dalam kehangatan suasana Natal, kami masih di Rote merasakan aroma Nusa Lontar. Setelah merayakan pesta kelahiran Yesus di Ba’a, Ibukota Kabupaten Rote Ndao, satu hari kami sisihkan untuk pergi ke Bo’a-Nemberala, salah satu pesona Nusa Lontar di ujung selatan Indonesia. Perjalanan ke pantai Bo’a-Nemberala inilah yang menjadi memori terindah dalam album perjalanan kami di penghujung tahun 2010.
Nemberala. Nama ini pernah kami dengar dari cerita orang tentang pantai dengan gulungan ombak yang mengundang peselancar dari berbagai belahan dunia. Atau yang paling resmi, Nemberala sering menjadi berita laris manis dalam berbagai media tentang keindahan pesona pesisirnya dan ombaknya yang menawan dan teratur berirama.
Tak heran, kerinduan kami akan Nemberala seperti menggelitik hati, ketika untuk pertama kalinya kami menginjakkan kaki di pulau Rote manise ini. Dan kerinduan itu tertumpah sudah bersama perjalanan pagi itu, di penghujung detik-detik pergantian sang waktu.
Kami berempat, Romo Alo Lake, Romo Leo Mali, Fr Amanche, dan Fr Iren Andre. Dengan kendaraan pick up milik Paroki Santo Kristoforus Ba’a-Rote, mulailah kami menempuh perjalanan wisata kami. Pukul 09.00 wita, berangkatlah kami dari Ba’a menuju Nemberala arah barat Kota Ba’a. Perjalanan berjarak sekitar 50 kilometer ini kami tempuh dengan gembira dan penuh semangat.
Hari itu udara cerah secerah hati kami. Pick up melaju mulus meninggalkan Kota Ba’a yang di sana-sini masih ditata. Bagi kami yang baru pertama kali datang ke Rote, menyusur barat Pulau Rote adalah kesempatan yang tak boleh disia-siakan. Kami sungguh menikmati perjalanan itu.
Mata kami tak berhenti menatap, ketika kami melewati perkampungan dengan senyuman khas Te’o-To’o yang melintas sepintas di depan kami. Setelah melewati Busalangga, sebuah desa kecil di tepi Ba’a, kami menemukan areal persawahan yang membentang luas bagai permadani.
Nggelak, begitulah nama areal persawahan itu yang berada di sisi kiri kanan jalan. Perjalanan kami semakin terasa segar dan lapang tatkala kami menemukan sabana yang luas berdandankan kambing dan domba. Hal yang tak mungkin kami lupakan adalah iringan kawanan domba di padang, yang mengingatkan kami tentang kisah kawanan domba dalam Injil. Pick up kami terus melaju dengan kecepatan sedang, dan kami pun semakin riang menuju Nemberala yang menanti kami.
Setelah dimanjakan dengan keindahanan padang, sawah, dan hutan yang segar, kini mendekatlah kami ke pesisir Nemberala. Romo Alo Lake yang mengemudikan mobil memilih memutar lewat perkampungan nelayan Oeseli. Perkampungan kecil ini cukup padat dengan perumahan. Namun yang menarik bagi kami adalah aktivitas para nelayan di kampung pesisir ini. Tak heran, kami menemukan sekelompok nelayan yang menatang jalanya di pinggir jalan.
Aroma khas pantai mulai tercium, ketika kami mulai masuk ke Oeseli. Kami terus memutar Oeseli, karena tujuan kami adalah Nemberala. Pohon pandan, bakau, dan santigi mulai kelihatan, pertanda pantai mulai nampak. Kami harus mendaki beberapa bukit karang kecil, dengan jalan yang sempit untuk merapat ke pantai.
Kami bersepakat untuk berhenti di sebuah sudut bukit untuk sedikit mengambil gambar dengan kamera digital kami. Di belakang kami, Samudra Hindia yang luas seperti terbuka menyambut kami.
Memasuki Bo’a, perkampungan di pinggir pantai itu adalah keindahan tersendiri. Nyiur melambai menyambut kami. Udara siang dengan hembusan sepoi tepi pantai sungguh memantik rasa kami. Kami terus menyusur pinggiran pantai itu.
Kami memasuki sebuah kawasan pantai yang luas dengan pasir putih yang bersih. Itulah Pantai Bo’a. Kawasan pantai ini sendiri sudah ditata seperti umumnya tempat-tempat wisata lainnya. Ada rumah-rumah kecil yang berdiri megah menghadap pantai, dan ada satu rumah setinggi menara yang menghadap laut lepas, tempat kami duduk menatap indahnya Pantai Bo’a.
Frater, di sinilah tempat perlombaan selancar internasional 2010 diadakan.” Begitulah Romo Alo Lake, Pastor Paroki Ba’a menginformasikan kepada kami, setelah kami tiba di tepi pantai itu, pukul sebelas lewat beberapa menit.
Kami heran. Kenapa Bo’a dan bukan Nemberala? Romo Alo kemudian menjelaskan kepada kami bahwa seluruh pesisir ini pada umumnya dikenal oleh pihak luar sebagai Nemberala. Memang nama Bo’a seperti tenggelam dalam kebesaran Nemberala. Lagi pula, dulu banyak orang yang memilih berselancar di Pantai Nemberala, baru sekaranglah Bo’a dikenal, dan dinikmati banyak peselancar lokal dan internasional.
Ada seorang anak kecil berlarian memeluk papan selancar. Kami memanggilnya. Namanya Titus. Kelas satu sekolah dasar. Malu- mau ia, tapi tangkas berselancar. "Siapa yang ajar kamu berselancar?" tanya Frater Iren Andre ingin tahu.
”Latih sendiri Om,” jawab Titus singkat dan tangkas.
Kami mengajaknya untuk berfoto ria. Selanjutnya, kami menyaksikan Titus dan beberapa teman peselancar cilik, anak Bo’a dan Nemberala berselancar di tengah gulungan ombak. Gulungan ombak yang rapi, namun berdaya pukul kuat tak sedikit pun membuat nyali mereka ciut. Titus dan teman-temannya memang bersahabat dengan pantai. Dan gulungan ombak adalah irama hidup mereka. Dari dekat, kami menyaksikan beberapa tanjung yang menjorok masuk ke laut dan batu karang yang berdiri kokoh siap menyambut hempasan gelombang. Pasir putih bersih dan halus. Kami menyusur tepian pantai berpasir putih itu, sekadar merasakan sentuhan pasir putih pada telapak kaki kami yang terus basah dijilati sisa ombak yang tempias di tepi pantai. Sejam lebih, mata kami seperti tak puas dengan pesona Pantai Bo’a. Jam 12.00 wita, ketika kami menghampiri seorang peselancar remaja, sekadar ingin tahu tentang kehidupan mereka. Steven Nggadas, 17 tahun, asli Rote, duduk di kelas 3 SMA Negeri 1 Rote Barat. Steven berbadan tegap, berkulit hitam.
Kami pun bertanya jawab dengannya Siapa yang ajar kamu berselancar? Tanya kami persis seperti pada Titus tadi.
Dari dulu kami berlatih sendiri, dengan melihat teman. Dan sejak kecil kami sudah tahu berenang Pak,” jawab Steven.
Dan ketika kami bertanya, apakah ia bercita-cita menjadi atlet selancar yang terkenal, ia pun manggut-manggut malu. Kami pun bersalaman, kemudian berpisah dengan tak lupa berpesan pada Steven, semoga kelak ia menjadi atlet selancar dari Bo’a- Nemberala.
Dua jam sudah kami di Pantai Bo’a. Setelah makan siang, kami meneruskan perjalanan wisata kami. Romo Alo Lake membawa kami menelusuri perkampungan Nemberala. Kampung Nemberala sudah lebih maju, jika dibandingkan dengan kampung-kampung di sekitarnya. Ada rumah ibadat, puskesmas dan sekolah yang ditata rapi.
Melewati salah satu sisi Nemberala yang ditumbuhi ratusan pohon kelapa, memantik nostalgia kami pada senandung Rayuan Pulau Kelapa yang indah dan menawan. Dan kampung Nemberala menyajikan di hadapan kami panorama nyiur melambai dan rayuan pohon kelapa yang menawan dan cantik. Sungguh eksotik! Melewati Gereja Protestan Jemaat Nemberala, mobil pick up kami menepi. Kami memasuki sebuah lorong kecil menuju tepi pantai, sebuah tempat pendaratan sederhana menuju Pulau Ndao. Di hadapan kami, Pulau Ndao dan Pulau Do’o terlihat jelas. Dua pulau ini adalah pulau terluar yang masuk dalam gugusan kepulauan terselatan Indonesia. Pulau Ndao sudah dihuni manusia sejak dulu, sedang Pulau Do’o melulu hanya ditumbuhi pepohonan pandan, bakau, dan perdu. Pulau Do’o sendiri, menurut kabar yang kami dapat, sudah dikuasai seorang konglomerat besar NTT.
Cerita tentang Nemberala dan sekitarnya tak berhenti dalam perjalanan kami. Sepanjang tepian Nemberala, kami menyaksikan beberapa kawasan pantai yang sudah dipagari dan dimiliki oleh beberapa warga asing. Nemberala memang indah, namun cerita tentang penjualan dan penguasaan tanah di sekitarnya merupakan sebuah keprihatinan tentang masa depan Nemberala sendiri, dan Rote pada umumnya.
Bahkan pelepah lontar pun mahal di sini, bukan saja tanah yang mahal, segala sesuatu pun jadi mahal di Nemberala ini,” tutur salah seorang guru yang sudah lama bertugas di Nemberala.
Minimnya sarana dan prasarana yang mendukung pariwisata, membuat Bo’a dan Nemberala seperti bersolek merias diri sendiri. Di satu sisi, prasarana jalan yang terputus-putus dan berlubang menjadi keprihatinan mendasar di Rote bagian barat ini.
Sudah saatnya Boa dan Nemberala diperhatikan oleh pemerintah dan segenap pihak yang seharusnya memperhatikannya. Tanpa perhatian pemerintah, janganlah heran apabila suatu saat, kita hanya menjadi penikmat Nemberala dari jauh, tanpa memilikinya sebagai bagian dari keutuhan pembangunan. Sungguh sayang dan malangnya Nemberalaku yang cantik. Begitu prihatin kami dalam hati. Namun di luar keprihatinan itu, Nemberala tetap cantik dan menarik bagi siapa saja yang ingin datang, dan mencumbui keindahan pantainya. Bahkan bila mau jujur, pesona Bo’a dan Nemberala tak kalah dengan pesona Pantai Kuta di Bali ataupun pesisir pantai lainnya di Nusantara ini.
Bagi kami yang hari itu mencumbui kecantikan Bo’a-Nemberala, ada rasa rindu yang tertambat di tepian pantai dan pucuk-pucuk nyiur permai di pesisir selatan itu. Kami pun kembali ke Ba’a, ibukota Kabupaten Rote Ndao, tepat ketika mentari mulai merona merah di barat. Matahari kian tenggelam, namun cerita tentang kecantikan Bo’a dan Nemberala tidak pernah akan tenggelam, malah kecantikannya terus memantik kerinduan kami, untuk suatu saat bisa kembali ke ujung selatan Indonesia itu.*
[Pos-Kupang]