Rumput Laut

Rumput laut adalah komuditas unggulan sektor kelautan dan perikanan yang menjadi leading sektor pendokrak pembangunan di kabupaten Rote Ndao. keunggulan komperatif komoditi rumput laut adalah bahwa tidak membutuhkan investasi yang besar, cost oprasai rendah, lahan tersedia, umur pemeliharaan pendek yakni 45 hari, rasio pertumbuhan berat tinggi 1:15-20, tenaga kerja tersedia, permintaan pasar sangat tinggi, harga kompetitif, sarana transportasi cukup memadai, prasaran jalan ke daerah sentra industri cukup baik.

Metode yang digunakan dalam budidaya adalah metode Long Line (dominan), patok dasar / lepas dasar dan rakit. sistem Longline memiliki investasi yang murah tetapi rentan terhadap gelombang dan angin sedangkan sistem rakit biaya mahal tetapi tahan terhadap gelombang dan angin. jenis rumput laut yang dibudidayakan adalah dari species Eucheuma Cotoniidari jenis Alga Merah (Rhodopy Ceae) yang mengandung polisakarida dan sejumlah protein, lemak, mineral dan vitamin. berdasarkan data potensi dan pemanfaatn yang baru mencapai 6,5% maak masih terdapat lahan tanam seluas 30.480,8 atau 93.21% yang belum dimanfaatkan dan dapat digunakan untuk ekspasi budidaya dan hasil produksi dijadikan bahan baku industri pengolahan tepung rumput laut atau industri ekstaksi karagenan.


Cumi-Cumi

Cumi-cumi sebagai salah satu komunitas unggulan perikanan tangkap di Perairan teritorial Kabupaten Rote Ndao memiliki potensi sebesar 2.681 ton per tahun dengan jumlah yang boleh di tangkap sehingga sumberdaya ikan tidak terdegradasi adalah 2.114,8 ton.

saat ini produksi cumi telah mencapai 82,35 ton kering atau setara dengan 247,3 ton basah dengan pemanfaatan 11,70%. dengan demikian peluang pengembangan produksi masih sekitar 1.867,5 ton atau 88,31% dari jumlah yang boleh di tangkap.

penangkapan cumi di Kabupaten Rote Ndao saat ini terdistribusi baru pada beberapa perairan Pulau Ndana kecamatan Rote Barat Daya, Pulau Do’o dan Nuse Kecamatan Rote Barat, yang mana perairan tersebut kaya akan sumberdaya ikan khususnya cumi-cumi. perairan bagian selatan dan perairan Kecamatan Rote Timur, Pantai Baru dan Rote Tengah belum dieksploitasi sama sekali. musim penagkapan cumi-cumi sepanjang tahun dengan musim puncak April sampai dengan Nopember.

Penangkapan Cumi-cumi umumnya dilakukan pada malam hari terutama hari-hari gelap (tidak dalam keadaan terang bulan) dengan m,enggunakan dua jenis alat tangkap yaitu jala lombo atau payang dan mini purse seini atau pukat cincin. jala lombo adalah pukat kantong yang digunakan untuk menangkap ikan permukaan (pelagic Fish) termasuk cumi-cumi. tingkat produktivitas alat ini rata-rata 250 kg cumi per hari.

Proses pengolahan cumi-cumi menggunakan dua metode yaitu cumi-cumi segar hasil tangkapan digarami kemudian di keringkan tanpa perebusan menghasilkan cumi-cumi asin kering kualitas second dengan harga yang lebih murah dan cumi-cumi segar hasil tangkapan di garami, rebus dan di keringkan menghasilkan cumi-cumi asin kering kualitas pertama dengan harga yang lebih mahal. sentra pengolahan cumi-cumi di Desa Tolama Kecamatan Rote Barat Laut dan Desa Oenggaut Kecamatan Rote Barat. cumi-cumi basah di jual dengan harga Rp.7000 per kg, cumi-cumi asin rebus kering harga Rp. 20.000 per kg dan cumi-cumi asin kering kualitas second harganya Rp. 17.000 per kg. semua hasil olahan cumi-cumi ini dipasarkan ke Jakarta dengan harga Berkisar antara Rp. 40.000 – Rp. 60.000 tergantung kualitas.


Ikan Kerapu

Ikan kerapu merupakan salah satu komunitas export adalan saat ini dengan permintaan pasar yang sangat tinggi namun terbatas dalam penyediaan stok dimana masih sangat bergantung dari hasil penangkapan di alam. Hal ini sangat menggangu stok alam mengingat harga yang cukup mahal dan intensitas penangkapan semakin meningkat sehingga budidaya dapat menajdi jalan keluar terbaik ikan kerapu merupakan jenis ikan karang dengan panjang total 3,3 – 3,8 kali tingginya, panjang kepala ¼ panjang total, leher bagian atas cekung dan semakin tua semakin cekung, sirip punggung semakin melebar ke belakang engan 10 duri keras dan 18 – 19 duri lunak, warna putih kadang kecoklatan dengan totol hitam pada badan, kepala dan sirip.

Menurut Bret dan Groves (1979), ikan kerapu bersifat stenohaline yaitu mempunyai kemampuan beradaptasin dengan lingkungan perairan berkadar garam rendah. Budidaya ikan kerapu merupakan salah satu produk unggulan sektor kelautan dan perikanan untuk mendongkrak pembangunan di Kabupaten Rote Ndao, mengingat potensi yang tersedia demikian menjanjikan dan belum dimanfaatkan optimum. Keunggulan komparatif kompetitif dari ikan karapu adalah memiliki harga jual yang tinggi, pangsa pasar tersedia, orentasi export, potensi perairan yang mendukung , ketersediaan induk di alam melimpah, tenaga kerja tersedia, serta dekat dengan daerah pemasaran. Produktivitas budidaya ikan kerapu tergolong tinggi yaitu diukur dari rasio pemberian pakan 5 – 7,5% per hari dari biomassa, kepadatan tebar (fase pendederan 200-250 ekor / m3, fase pengge – londongan 75-100 ekor / m3, pasca gelondongan hingga panen 20 – 25 ekor /m3), lintasan produksi 85-90% hingga ukuran konsumsi, pertumbuhan 3 – 3,5 cm per bulan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Designed by

best down free | web phu nu so | toc dep 2017